Sejarah Tasawuf di Indonesia

1. Sejarah
Dengan dikatakan Islam masuk ke Indonesia pada abad pertama hijriyah (abad ke-7 masehi), maka dapat diketahui bahwa tasawuf tidak bersamaan dengan masuknya Islam ke Indonesia. Tasawuf datang ke Indonesia paling cepat pada awal abad ke-2 Hijriyah. Yang jelas pada abad ke-8 Hijriyah atau abad ke-14 Masehi, faham tasawuf sudah mendapat pasaran di Indonesia.
Alasan yang dikemukakan dalam hal ini: pertama, tokoh-tokoh sufi angkatan pertama seperti Hasan Al-Basri, Rabi’an Al-adawiyah, Sufyan Tsauri, ketiga-tiganya dari Bashrah, kemudian Ibrahim bin Adham dan Syaqiq Al-Balkhi yang kedua-keduanya dari Persia hidup antara akhir abad ke-1 sampai akhir abad ke-2 Hijriyah. Tentu saja paham tasawuf mereka ini paling cepat menyebar pada awal abad ke-2 Hijriyah, bahkan tidak mustahil jauh setelah itu. Kedua, yang mula-mula menyebarkan Islam ke Indonesia adalah para pedagang yang mempunyai konsentrasi pada urusan bisnis, disamping merasa berkewajiban untuk menyiarkan agama yang mereka anut (Islam). Mereka tida pernah disebut sebagai ahli tasawuf. Ketiga, paham-paham tarekat yang berkembang di Indonesia, seperti Naqsabandiyah, Qadariyah, Syatariyah, ternyata mereka ini berada antara abad ke-7 Hijriyah.

2. Tokoh-tokoh Tasawuf di Indonesia
A. Hamzah Al-Fansuri
Hamzah Al-Fansuri adalah orang yang pertama memunculkan tasawuf falsafi di Indonesia, yang bersih dan murni dari penyimpangan, bahkan seakan sempurna dalam rujukannya terhadap sumber-sumber Arab yang Islami. Riwayat hidup Hamzah masih dipersoalkan para peneliti, namun sementara ini merka menyimpulkan Hamzah hidup pertengahan abad ke-16 hingga awal abad ke-17. Risalah tasawuf Hamzah Fansuri ada tiga, yaitu:
1. Syarab al-Asykin
Kandungan Syarab Al-Asykin adalah ringkasan ajaran wahdah al-wujuh Ibnu Arabi, Sadr al-Din al-Qunawi dan Abd Karim al-Jili. Kitab ini terdiri dari tujuh bab yang membahas tentang Ilmu Suluk yang terdiri dari syariat,hakikat dan makrifat , tajalli zat Tuhan yang maha tinggi, asas-asas ontologi wujudiyah, dan uraian sifat-sifat Allah.
2. Asrar al-Arifin
Di dalam risalah ini ada lima belas syair yang merupakan uraian tentang metafisika atau ontologi wujudiyah dan sifat-sifat Tuhan yang kekal. Dalam sifat-sifat-Nya terkandung potensi dari tindakan-tindakan-Nya yang dengan tidak berkesudahan memperlihatkan diri dalam segala ciptaan-Nya.
3. Al-Muntahi
Di dalam muntahi ada tiga masalah penting yang dibicarakan yaitu,pertama tentang kejadian atau penciptaan alam semesta sebagai panggung manifestasi Tuhan dan kemahakuasaan-Nya, kedua tentang bagaimana Tuhan memanifestasikan dirinya dan bagaimana alam semesta dipandang dari sudut pemikiran ahli-ahli makrifat, serta sebab pertama dari segala kejadian dan ketiga tentang bagaimana seseorang dapat kembali ke asalnya (Tuhan).
B. Ar-Raniri
Nama lengkapnya Nur Al-Din Muhammad b. Ali b. Hasanji Alhamid Al syafi’i Al asy’ari Al aydarusi al Raniri, lahir di Ranir, sebuah kota pelabuhan di pantai Gujarat, India. Secara umum ia lebuh dianggap sebagai orang alim Melayu Indonseia daripada India atau Arab. Tahun kelahirannya sekitar abad ke-16. Dikatakan ibunya seorang melayu Indonesia namun ayahnya berasal dari imigran Hadrami yang mempunyai tradisi panjang berpindah dari Asia selatan dan Asia tenggara. Pendidikan pertamanya diperoleh di Ranir kemudian wilayah Hadhramaut.
Ar-Raniri adalah ulama yang produktif, ia menulis tidak kurangdari 30 buku diantaranya Al-shirat al-mustaqim, Hidayah al-habib, Umdah al-I’tiqad dan lain-lain.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s