Produk – produk Pembiayaan

Produk-produk Pembiayaan –

Produk pembiayaan adalah suatu jasa layanan KJKS yang dikemas sesuai skema pembiayaan dan tujuan penggunaan dananya.[1] Menurut Pengkodifikasian Produk Perbankan Syariah dari Peraturan Bank Indonesia produk pembiayaan terdiri dari:[2]

  1. a.      Pembiayaan Atas Dasar Akad Mudharabah

         Transaksi penanaman dana dari pemilik dana (shahibul maal) kepada pengelola dana (mudharib) untuk melakukan kegiatan usaha tertentu yang sesuai syariah, dengan pembagian hasil usaha antara kedua belah pihak berdasarkan nisbah yang telah disepakati sebelumnya. Mudharabah terbagi lagi menjadi dua jenis, yaitu: Mudharabah Muthlaqoh dan Mudharabah Muqoyyadah. Mudharabah muthlaqoh adalah mudharabah untuk kegiatan usaha yang cakupannya tidak dibatasi oleh spesifikasi jenis usaha, waktu, dan daerah bisnis sesuai permintaan pemilik dana. Sedangkan mudharabah muqoyyadah adalah mudharabah untuk kegiatan usaha yang cakupannya dibatasi oleh spesifikasi jenis usaha, waktu, dan daerah bisnis sesuai permintaan pemilik dana.         

1) Fitur Dan Mekanisme[3]

a)Bank bertindak sebagai pemilik dana (shahibul maal) yang menyediakan dana dengan fungsi sebagai modal kerja, dan nasabah bertindak sebagai pengelola dana (mudharib) dalam kegiatan usahanya.

b)   Bank memiliki hak dalam pengawasan dan pembinaan usaha nasabah walaupun tidak ikut serta dalam pengelolaan usaha nasabah, antara lain bank dapat melakukan review dan meminta bukti-bukti dari laporan hasil usaha nasabah berdasarkan bukti pendukung yang dapat dipertanggungjawabkan.

c)Pembagian hasil usaha dari pengelolaan dana dinyatakan dalam nisbah yang disepakati.

d)  Nisbah bagi hasil yang disepakati tidak dapat diubah sepanjang jangka waktu investasi, kecuali atas dasar kesepakatan para pihak.

e)Jangka waktu pembiayaan atas dasar akad mudharabah, pengembalian dana, dan pembagian hasil usaha ditentukan berdasarkan kesepakatan bank dan nasabah.

f)  Pembiayaan atas dasar akad mudharabah diberikan dalam bentuk uang dan/atau barang, serta bukan dalam bentuk piutang atau tagihan.

g)   Dalam hal pembiayaan atas dasar akad mudharabah diberikan dalam bentuk uang harus dinyatakan secara jelas jumlahnya.

h)   Dalam hal pembiayaan atas dasar akad mudharabah diberikan dalam bentuk barang, maka barang tersebut harus dinilai atas dasar harga pasar (net realizable value) dan dinyatakan secara jelas jumlahnya.

i)   Pengembalian pembiayaan atas dasar mudharabah dilakukan dalam dua cara, yaitu secara angsuran ataupun sekaligus pada akhir periode akad, sesuai dengan jangka waktu pembiayaan atas dasar akad mudharabah.

j)   Pembagian hasil usaha dilakukan atas dasar laporan hasil usaha pengelola dana (mudharib) dengan disertai bukti pendukung yang dapat dipertanggungjawabkan.

k)   Kerugian usaha nasabah pengelola dana (mudharib) yang dapat ditanggung oleh bank selaku pemilik dana (shahibul maal) adalah maksimal sebesar jumlah pembiayaan yang diberikan (ra’sul maal).

2) Analisis dan Identifikasi Risiko[4]

a)      Risiko pembiayaan (credit risk) yang disebabkan oleh   nasabah wanprestasi atau default.

b)      Risiko pasar yang disebabkan oleh pergerakan nilai tukar jika pembiayaan atas dasar akad mudharabah diberikan dalam valuta asing.

c)      Risiko operasional yang disebabkan oleh internal fraud antara lain pencatatan yang tidak benar atas nilai posisi, penyogokan/ penyuapan, ketidaksesuaian pencatatan pajak (secara sengaja), kesalahan, manipulasi dan mark up dalam akuntansi/ pencatatan maupun pelaporan.

  1. b.      Pembiayaan Atas Dasar Akad Musyarakah

Pembiayaan atas dasar akad musyarakah adalah transaksi penanaman dana dari dua atau lebih pemilik dana dan/atau barang untuk menjalankan usaha tertentu sesuai syariah dengan pembagian hasil usaha antara kedua belah pihak berdasarkan nisbah yang disepakati, sedangkan pembagian kerugian berdasarkan proporsi modal masing-masing.

1) Fitur Dan Mekanisme[5]

a)   Bank dan nasabah masing-masing bertindak sebagai mitra usaha dengan bersama-sama menyediakan dana dan/atau barang untuk membiayai suatu kegiatan usaha tertentu.

b)   Nasabah bertindak sebagai pengelola usaha dan bank sebagai mitra usaha dapat ikut serta dalam pengelolaan usaha sesuai dengan tugas dan wewenang yang disepakati seperti melakukan review, meminta bukti-bukti dari laporan hasil usaha yang dibuat oleh nasabah berdasarkan bukti pendukung yang dapat dipertanggungjawabkan.

c)   Pembagian hasil usaha dari pengelolaan dana dinyatakan dalam bentuk nisbah yang disepakati.

d)  Nisbah bagi hasil yang disepakati tidak dapat diubah sepanjang jangka waktu investasi, kecuali atas dasar kesepakatan para pihak.

e)   Pembiayaan atas dasar akad musyarakah diberikan dalam bentuk uang dan/atau barang, serta bukan dalam bentuk piutang atau tagihan.

f)    Dalam hal pembiayaan atas dasar akad musyarakah diberikan dalam bentuk uang harus dinyatakan secara jelas jumlahnya.

 

g)   Dalam hal pembiayaan atas dasar akad musyarakah diberikan dalam bentuk barang, maka barang tersebut harus dinilai atas dasar harga pasar (net realizable value) dan dinyatakan secara jelas jumlahnya.

h)   Jangka waktu pembiayaan atas dasar akad musyarakah, pengembalian dana, dan pembagian hasil usaha ditentukan berdasarkan kesepakatan antara bank dan nasabah.

i)     Pengembalian pembiayaan atas dasar akad musyarakah dilakukan dalam dua cara, yaitu secara angsuran ataupun sekaligus pada akhir periode pembiayaan, sesuai dengan jangka waktu pembiayaan atas dasar akad musyarakah.

j)     Pembagian hasil usaha berdasarkan laporan hasil usaha nasabah berdasarkan bukti pendukung yang dapat dipertanggungjawabkan.

k)   Bank dan nasabah menanggung kerugian secara proporsional menurut porsi modal masing-masing.

2) Analisis dan Identifikasi Risiko[6]

a)      Risiko pembiayaan yang disebabkan oleh nasabah wanprestasi atau default.

b)      Risiko pasar yang disebabkan oleh pergerakan nilai tukar jika pembiayaan atas dasar akad musyarakah diberikan dalam valuta asing.

c)      Risiko operasional yang disebabkan oleh internal fraud antara lain pencatatan yang tidak benar atas nilai posisi, penyogokan/ penyuapan, ketidaksesuaian pencatatan pajak (secara sengaja), kesalahan, manipulasi dan mark up dalam akuntansi/ pencatatan maupun pelaporan.

c.  Pembiayaan atas dasar akad Murabahah

Transaksi jual beli suatu barang sebesar harga perolehan barang ditambah dengan margin yang disepakati olah para pihak, dimana penjual menginformasikan terlebih dahulu harga perolehan kepada pembeli.

1) Fitur Dan Mekanisme[7]

a)      Bank bertindak sebagai pihak penyedia dana dalam kegiatan transaksi murabahah dengan nasabah.

b)      Bank dapat membiayai sebagian atau seluruh harga pembelian barang yang telah disepakati kualifikasinya.

c)      Bank wajib menyediakan dana untuk merealisasikan penyediaan barang yang dipesan nasabah.

d)     Bank dapat memberikan potongan dalam besaran yang wajar dengan tanpa diperjanjikan dimuka.

2)  Analisis dan Identifikasi Risiko

a)Risiko pembiayaan  yang disebabkan oleh nasabah wanprestasi

b)   Risiko pasar yang disebabkan oleh pergerakan nilai tukar jika pembiayaan atas dasar akad murabahah diberikan dalam valuta asing.

d. Pembiayaan Atas Dasar Akad Salam

Transaksi jual beli barang dengan cara pemesanan dengan syarat-syarat tertentu dan pembayaran tunai terlebih dahulu secara penuh.

1)      Fitur Dan Mekanisme[8]

a)      Bank bertindak baik sebagai pihak penyedia dana dalam kegiatan transaksi salam dengan nasabah.

b)      Bank dan nasabah wajib menuangkan kesepakatan dalam bentuk perjanjian tertulis berupa akad pembiayaan atas dasar salam.

c)      Penyediaan dana oleh bank kepada nasabah harus dilakukan di muka secara penuh yaitu pembayaran segera setelah pembiayaan atas dasar akad salam disepakati atau paling lambat tujuh hari setelah Pembiayaan atas dasar Akad Salam disepakati.

d)     Pembayaran oleh bank kepada nasabah tidak boleh dalam bentuk pembebasan utang nasabah kepada bank atau dalam bentuk piutang bank.

2)      Analisis dan Identifikasi Risiko

a)      Risiko pembiayaan yang disebabkan oleh nasabah wanprestasi.

b)      Risiko pasar yang disebabkan oleh pergerakan nilai tukar jika modal Salam dalam penyelesaian adalah dalam valuta asing.

e.  Pembiayaan Atas Dasar Akad Istishna

Transaksi jual beli barang dalam bentuk pemesanan pembuatan barang dengan kriteria dan persyaratan tertentu yang disepakati dengan pembayaran sesuai dengan kesepakatan.

1)      Fitur Dan Mekanisme[9]

a)      Bank bertindak baik sebagai pihak penyedia dana dalam kegiatan transaksi Istishna’ dengan nasabah.

b)      Pembayaran oleh bank kepada nasabah tidak boleh dalam bentuk pembebasan utang nasabah kepada bank atau dalam bentuk piutang Bank.

 

2)       Analisis dan Identifikasi Risiko

a)    Risiko Pembiayaan yang disebabkan oleh nasabah wanprestasi, baik dalam penyelesaian aktiva istishna’ dalam penyelesaian maupun penyelesaian kewajiban pembayaran aktiva istishna’ yang sudah diserahkan.

b)   Risiko pasar yang disebabkan oleh pergerakan nilai tukar jika modal aktiva istishna’ dalam penyelesaian adalah dalam valuta asing.

  1. Pembiayaan Atas Dasar Akad Ijarah

Ijarah adalah Transaksi sewa menyewa atas suatu barang dan/atau jasa antara pemilik objek sewa termasuk kepemilikan hak pakai atas objek sewa dengan penyewa untuk mendapatkan imbalan atas objek sewa yang disewakan. Selain ijarah, ada akad Ijarah Muntahiya Bittamlik yaitu transaksi sewa menyewa antara pemilik objek sewa dan penyewa untuk mendapatkan imbalan atas objek sewa yang disewakannya dengan opsi perpindahan hak milik objek sewa.

1)  Fitur Dan Mekanisme[10]

a)   Bank bertindak sebagai penyedia dana dalam kegiatan transaksi Ijarah dengan nasabah.

b)   Bank wajib menyediakan dana untuk merealisasikan penyediaan obyek sewa yang dipesan nasabah.

c)   Pengembalian atas penyediaan dana bank dapat dilakukan baik dengan angsuran maupun sekaligus.

d)  Pengembalian atas penyediaan dana bank tidak dapat dilakukan dalam bentuk piutang maupun dalam bentuk pembebasan utang.

e)   Dalam hal pembiayaan atas dasar Ijarah Muntahiya Bittamlik, selain Bank sebagai penyedia dana dalam kegiatan transaksi Ijarah dengan nasabah, juga bertindak sebagai pemberi janji (wa’ad) antara lain untuk memberikan opsi pengalihan hak penguasaan obyek sewa kepada nasabah sesuai kesepakatan.

2) Analisis dan Identifikasi Risiko

a)            Risiko Pembiayaan yang disebabkan oleh nasabah wanprestasi.

b)   Risiko Pasar yang disebabkan oleh pergerakan nilai tukar jika modal pengadaan aktiva Ijarah maupun sumber pembiayaan Ijarah adalah dalam valuta asing.

  1. Pembiayaan Atas Dasar Akad Qardh

Qardh adalah Transaksi pinjam meminjam dana tanpa imbalan dengan kewajiban pihak peminjam mengembalikan pokok pinjamansecara sekaligus atau cicilan dalam jangka waktu tertentu.

1) Fitur Dan Mekanisme[11]

a)   Bank bertindak sebagai penyedia dana untuk memberikan pinjaman (Qardh) kepada nasabah berdasarkan kesepakatan.

b)   Bank dilarang dengan alasan apapun untuk meminta pengembalian pinjaman melebihi dari jumlah nominal yang sesuai akad.

c)   Bank dilarang untuk membebankan biaya apapun atas penyaluran pembiayaan atas dasar Qardh, kecuali biaya administrasi dalam batas kewajaran.

d)  Pengembalian jumlah pembiayaan atas dasar Qardh, harus dilakukan oleh nasabah pada waktu yang telah disepakati.

e)   Dalam hal nasabah digolongkan mampu namun tidak mengembalikan sebagian atau seluruh kewajibannya pada waktu yang telah disepakati, maka bank dapat memberikan sanksi sesuai syariah dalam rangka pembinaan nasabah.

2) Analisis dan Identifikasi Risiko

a)         Risiko pembiayaan yang disebabkan oleh nasabah wanprestasi.

b)   Risiko pasar yang disebabkan oleh pergerakan nilai tukar jika qardh untuk transaksi komersial adalah dalam valuta asing.

 

 


[1] Ridha Nugraha, “Manajemen Pembiayaan Panduan Untuk Koperasi Syariah SDM Kementerian Koperasi” artikel diakses pada 15 juli 2012 dari http://hasbullah.multiply.multiplycontent.com

 

[2] Peraturan Bank Indonesia  No. 10/31/PBI/2008

[3]Lampiran Kodifikasi Produk Perbankan Syariah, Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia, h.B-1

[4] Lampiran Kodifikasi Produk Perbankan Syariah, Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia, h.B-2

[5] Lampiran Kodifikasi Produk Perbankan Syariah, Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia, h.B-4

[6] Lampiran Kodifikasi Produk Perbankan Syariah, Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia, h.B-5

[7] Lampiran Kodifikasi Produk Perbankan Syariah, Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia, h.B-6

[8] Lampiran Kodifikasi Produk Perbankan Syariah, Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia, h.B-8

[9] Lampiran Kodifikasi Produk Perbankan Syariah, Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia, h.B-10

[10] Lampiran Kodifikasi Produk Perbankan Syariah, Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia, h.B-12

[11] Lampiran Kodifikasi Produk Perbankan Syariah, Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia, h.B-14

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s