Pro Nikah Sirri VS Kontra Nikah Sirri

PRO NIKAH SIRRI

 Dalam sebuah hadist disebutkan “Barangsiapa mengawini seorang wanita karena memandang kedudukannya maka Allah akan menambah baginya kerendahan, dan barangsiapa mengawini wanita karena memandang harta-bendanya maka Allah akan menambah baginya kemelaratan, dan barangsiapa mengawininya karena memandang keturunannya maka Allah akan menambah baginya kehinaan, tetapi barangsiapa mengawini seorang wanita karena bermaksud ingin meredam gejolak mata dan menjaga kesucian seksualnya atau ingin mendekatkan ikatan kekeluargaan maka Allah akan memberkahinya bagi isterinya dan memberkahi isterinya baginya”. (HR. Bukhari)

Pada prinsipnya, selama pernikahan sirri itu memenuhi rukun dan syarat perkawinan yang disepakati para ulama sebagaimana disebutkan di atas, maka dapat dipastikan hukum perkawinan itu ada dasarnya sudah sah. Hanya saja bertentangan dengan perintah Nabi saw., yang menganjurkan agar perkawinan itu terbuka dan diumumkan kepada orang lain agar tidak menjadi fitnah-tuduhan buruk dari masyarakat. Bukankah salah satu perbedaan perzinaan dengan perkawinan itu dalam hal diumumkan dan terang-terangannya.

Pengharaman nikah siri dikhawatirkan akan melegalkan ‘kumpul kebo’. orang menikah siri itu karena dilatar belakangi oleh beberapa factor (1) Karena pendatang (2)terikat perkawinan (3) mempelai wanita tidak mendapat restu sang wali (4) Menikah dibawah umur (5) Menikah dengan tujuan Trafiking.

Ada tiga alasan bagi mereka yang pro dengan nikah siri (1) Negara tidak boleh mencampuri urusan agama warganya (2) Kalau kawin siri dilarang, dan apalagi dianggap criminal, prostitusi menjadi marak (3) Kawin siri sah dalam ajaran islam

Apabila nikah siri dilarang pasti akan marak prostitusi. justru pernikahan siri itu menjadi salah satu solusi, agar perzinaan tidak meraja lela dibumi pertiwi ini. Sebab, dorongan nafsu yang begitu tinggi, serta maraknya pornografi, serta tayangan yang mengumbar sahwat sudah tidak terbendung lagi.

Jika pemerintah akan memidana orang yang menikah sirri, alangkah lebih baik pemerintah juga menerapkan syari’at Islam secara keseluruhan, daripada mengambil sesuatu hukum yang sepotong-sepotong. Dan jika yang dipermasalahkan hanya sebatas pencatatan dari KUA saja, bukankah seorang suami yang menikah secara legal (dicatat) oleh KUA dan meninggalkan istrinya dengan seenaknya juga sangat banyak sekali!

Kita tidak perlu jauh-jauh mencontoh jaman rasulullah dan sahaba-sahabatnya. Contoh saja kakek dan nenek kita, apakah dulu ditahun 1945 kebawah ada sistem pencatatan pernikahan? Bukankah banyak sekali bahkan hampir dikatakan semua orang pada saat jaman itu tidak memakai pencatatan pemerintah (KUA). Tetapi hidup mereka juga biasa-biasa saja.

Tidak dipungkiri, kawin siri (dibawah tangan) sah menurut agama, walaupun tidak dicatatkan di KUA. Apapun alasanya, UU pemerintah tidak akan bisa mengalahkan hukum agama, apalagi latar belakang hukum tersebut ada nuansa politik di dalamnya. Kendati demikian, sebagai warga Negara yang baik, disamping taat terhadap agama, juga mesti setia terhadap aturan pemerintah tanpa harus membenturkan agama dengan pemerintah, yang masing-masing memiliki aturan. Mestinya pemerintah mengadakan sebuah riset, sejauh mana penyelewengan seksual yang dilakukan oleh generasi bangsa. Kemudian bersama-sama mencari solusi, bukan memberikan wacana pidana terhadap pernikahan yang sah menurut agama.

KONTRA NIKAH SIRRI

Dalam Islam tidak dikenal Nikah sirri (sembunyi-sembunyi), karena didalam Hadits Rasulullah dijelaskan bahwa dari Amir Ibnu Abdullah Ibnu al-Zubair, dari ayahnya Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Sebarkanlah berita pernikahan.” Riwayat Ahmad. Hadits shahih menurut Hakim.

Hadis riwayat Anas bin Malik ra.: Bahwa Nabi saw. melihat warna bekas wangian pengantin di tubuh Abdurrahman bin Auf, lalu beliau bertanya: Apakah ini? Abdurrahman menjawab: Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku baru saja menikahi seorang wanita dengan mahar seharga lima dirham emas. Rasulullah saw. lalu bersabda: Semoga Allah memberkahimu dan rayakanlah walaupun dengan seekor kambing. (Shahih Muslim No.2556)

Dari Anas Ibnu Malik ra bahwa Nabi SAW pernah melihat bekas kekuningan pada Abdurrahman Ibnu Auf. Lalu beliau bersabda: “Apa ini?”. Ia berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah menikahi seorang perempuan dengan maskawin senilai satu biji emas. Beliau bersabda: “Semoga Allah memberkahimu, selenggarakanlah walimah (resepsi) walaupun hanya dengan seekor kambing.” Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut Muslim.

Pernikahan siri sering diartikan oleh masyarakat umum dengan; Pertama; pernikahan tanpa wali. kedua, pernikahan yang sah secara agama namun tidak dicatatkan dalam lembaga pencatatan negara.

Adapun mengenai fakta pertama, yakni pernikahan tanpa wali; sesungguhnya Islam telah melarang seorang wanita menikah tanpa wali. Ketentuan semacam ini didasarkan pada sebuah hadits yang dituturkan dari sahabat Abu Musa ra; bahwasanya Rasulullah saw bersabda;

لا نكاح إلا بولي

“Tidak sah suatu pernikahan tanpa seorang wali.” [HR yang lima kecuali Imam An Nasaaiy, lihat, Imam Asy Syaukani, Nailul Authar VI: 230 hadits ke 2648].

Berdasarkan dalalah al-iqtidla’, kata ”laa” pada hadits menunjukkan pengertian ‘tidak sah’, bukan sekedar ’tidak sempurna’ sebagaimana pendapat sebagian ahli fikih. Makna semacam ini dipertegas dan diperkuat oleh hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah ra, bahwasanya Rasulullah saw pernah bersabda:

أيما امرأة نكحت بغير إذن وليها فنكاحها باطل, فنكاحها باطل , فنكاحها باطل

“Wanita mana pun yang menikah tanpa mendapat izin walinya, maka pernikahannya batil; pernikahannya batil; pernikahannya batil”. [HR yang lima kecuali Imam An Nasaaiy. Lihat, Imam Asy Syaukaniy, Nailul Authar VI: 230 hadits ke 2649].

Abu Hurairah ra juga meriwayatkan sebuah hadits, bahwasanya Rasulullah saw bersabda:

لا تزوج المرأة المرأة لا تزوج نفسها فإن الزانية هي التي تزوج نفسها

”Seorang wanita tidak boleh menikahkan wanita lainnya. Seorang wanita juga tidak berhak menikahkan dirinya sendiri. Sebab, sesungguhnya wanita pezina itu adalah (seorang wanita) yang menikahkan dirinya sendiri”. (HR Ibn Majah dan Ad Daruquthniy. Lihat, Imam Asy Syaukaniy, Nailul Authar VI: 231 hadits ke 2649)

Sedangkan fakta kedua, yakni pernikahan yang sah secara agama namun tidak dicatatkan dalam lembaga pencatatan negara. Fungsi pencatatan pernikahan pada lembaga pencatatan sipil adalah agar seseorang memiliki alat bukti (bayyinah) untuk membuktikan bahwa dirinya benar-benar telah melakukan pernikahan dengan orang lain. Sebab, salah bukti yang dianggap absah sebagai bukti syar’iy (bayyinah syar’iyyah) adalah dokumen resmi yang dikeluarkan oleh negara.

Dan pada dasarnya, Nabi saw telah mendorong umatnya untuk menyebarluaskan pernikahan dengan menyelenggarakan walimatul ‘ursy. Anjuran untuk melakukan walimah, walaupun tidak sampai berhukum wajib akan tetapi nabi sangat menganjurkan (sunnah muakkadah). Nabi saw bersabda;

حَدَّثَنَا أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاةٍ

Adakah walimah walaupun dengan seekor kambing”.[HR. Imam Bukhari dan Muslim]

Banyak hal-hal positif yang dapat diraih seseorang dari penyiaran pernikahan; di antaranya adalah ; (1) untuk mencegah munculnya fitnah di tengah-tengah masyarakat; (2) memudahkan masyarakat untuk memberikan kesaksiannya, jika kelak ada persoalan-persoalan yang menyangkut kedua mempelai; (3) memudahkan untuk mengidentifikasi apakah seseorang sudah menikah atau belum.

Dalam konteks pernikahan sirri, secara de facto telah melahirkan setumpuk permasalahan, kemudaratan dan memiliki nilai minus secara moral. Dengan hanya bersandar pada legitimasi fikih dan mengabaikan subtansi dan tujuan perkawinan itu sendiri, sirri merupakan proses desakralisasi perkawinan yang sejatinya merupakan ikatan mulia dan kuat. Kekuatan ikatan ini yang dibahasakan al-Qur’an dengan mitsaqa ghaliza. Pembiaran terhadap jenis perkawinan ini adalah merupakan dukungan terhadap penjajahan dan imperialisme kaum hawa melalui tameng legitimasi hukum Islam.

Disamping itu, perkawinan sirri juga membawa kemudharatan secara sosial, karena tanpa terdaftar secara administratif di KUA dan tidak mempunyai Akta Perkawinan, maka status perkawinan tersebut melemahkan posisi kaum wanita jika suatu waktu terjadi persengketaan rumah tangga.

Apalagi jika nikah sirri itu hanya dijadikan kedok untuk perselingkuhan sehingga melabrak rukun dan syarat perkawinan yang baku , maka sudah barang tentu jatuh kepada perbuatan yang haram dan perkawinannya tidak sah.

Didalam Pasal 143 RUU UU dijelaskan bahwa yang hanya diperuntukkan bagi pemeluk Islam ini menggariskan, setiap orang yang dengan sengaja melangsungkan perkawinan tidak di hadapan pejabat pencatat nikah dipidana dengan ancaman hukuman bervariasi, mulai dari enam bulan hingga tiga tahun dan denda mulai dari Rp6 juta hingga Rp12 juta. Selain kawin siri,draf RUU juga menyinggung kawin mutah atau kawin kontrak.

Jadi nikah sirri dalam Islam itu tidak ada. Karena banyaknya orang yang salah persepsi bahwa nikah sirri itu ada dalam Islam, maka banyak yang salah kaprah dalam memahami Islam. Dibeberapa daerah ada seseorang yang menikah dengan perjanjian tertentu, lalu dinikahkan oleh walinya sesuai dengan rukun pernikahan. Maka orang-orang menganggap itu adalah nikah sirri. Beberapa LSM-LSM memberitakan kejelekan-kejelekan dari nikah sirri tersebut. Tetapi pada hakekatnya itu adalah nikah mut’ah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s