Ta’arudh Al-Adillah

 

  1. Pembahasan

 

  1. Pengertian Ta’arudh Al-Adillah

 

Secara etimologi, ta’arudh berarti “pertentangan” dan adillah adalah jamak dari dalil yang berarti “alasan, argument dan dalil.” Persoalan ta’arudh al-adillah dibahas para ulama dalam ilmu ushul fiqh, ketika terjadinya pertentangan secara zahir antara satu dalil dengan dalil lainnya pada derajat yang sama.

Secara terminologi, ada beberapa definisi yang dikemukakan para ulama ushul fiqh tentang ta’arudh al-adillah:

  1. Imam al-Syaukani, mendefinisikannya sebagai suatu dalil yang menentukan hukum tertentu terhadap suatu persoalan sedangkan dalil lain menentukan hukum yang berbeda dengan itu.
  2. Kamal ibn al-Humam dan al-Tafhazani, mendefinisikannya sebagai pertentangan dua dalil yang tidak mungkin dilakukan kompromi antara keduanya.
  3. Ali Hasballah, mendefinisikannya sebagai terjadinya pertentangan hukum yang dikandung suatu dalil dengan hukum yang dikandung dalil lainnya, yang kedua dalil tersebut berada dalam satu derajat (maksudnya antara ayat dengan ayat dan antara hadits dengan hadits).

Pada dasarnya, seperti ditegaskan Wahbah Zuhaili, tidak ada pertentangan dalam kalam Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu, adanya anggapan ta’arudh antara dua atau beberapa dalil, hanyalah dalam pandangan mujtahid, bukan pada hakikatnya. Dalam kerangka pikiran ini, maka ta’arudh mungkin terjadi baik pada dalil-dalil yang qath’i, maupun dalil yang zhani.

 

Berikut adalah beberapa contoh ta’arudh al-adillah:

  1. Firman Allah SWT dalam surat al-Baqarah ayat 234:

 

tûïÏ%©!$#ur tböq©ùuqtFムöNä3ZÏB tbrâ‘x‹tƒur %[`ºurø—r& z`óÁ­/uŽtItƒ £`ÎgÅ¡àÿRr’Î/ spyèt/ö‘r& 9åkô­r& #ZŽô³tãur ( #sŒÎ*sù z`øón=t/ £`ßgn=y_r& Ÿxsù yy$oYã_ ö/ä3øŠn=tæ $yJŠÏù z`ù=yèsù þ’Îû £`ÎgÅ¡àÿRr& Å$râ÷êyJø9$$Î/ 3 ª!$#ur $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ׎Î6yz ÇËÌÍÈ

 

Artinya: Dan orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan istri-istri (hendaklah para istri itu) menangguhkan dirinya (beriddah) empat bulan sepuluh hari…(Q.S. 2, al-Baqarah: 234).

Nash ini menghendaki keumumannya, yaitu setiap istri yang ditinggal mati suaminya, iddahnya akan selesai setelah masa empat bulan sepuluh hari. Baik istri itu sedang hamil atau tidak.

Firman Allah SWT dalam surat ath-Thalaq ayat 4:

 

‘Ï«¯»©9$#ur z`ó¡Í³tƒ z`ÏB ÇيÅsyJø9$# `ÏB ö/ä3ͬ!$|¡ÎpS ÈbÎ) óOçFö;s?ö‘$# £`åkèE£‰Ïèsù èpsW»n=rO 9ßgô©r& ‘Ï«¯»©9$#ur óOs9 z`ôÒÏts† 4 àM»s9’ré&ur ÉA$uH÷qF{$# £`ßgè=y_r& br& z`÷èŸÒtƒ £`ßgn=÷Hxq 4 `tBur È,­Gtƒ ©!$# @yèøgs† ¼ã&©! ô`ÏB ¾Ín͐öDr& #ZŽô£ç„ ÇÍÈ

 

Artinya: Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya… (Q.S. 65, ath-Thalaq: 4).

 

Nash ini juga menghendaki keumumannya, yaitu bahwa setiap istri yang sedang hamil, iddahnya akan selesai setelah melahirkan kandungannya. Baik dia itu karena ditinggal mati suaminya atau karena ditalak.

Maka istri yang ditinggal mati suaminya dalam kondisi hamil, adalah suatu peristiwa yang dikehendaki nash pertama agar iddahnya selesai setelah empat bulan sepuluh hari. Sedangkan nash kedua menghendaki agar iddahnya selesai sampai dia melahirkan kandungannya. Jadi dua nash itu kontradiksi dalam peristiwa ini.

 

  1. Contoh ta’arudh al-adillah dalam hadits adalah: “tidak ada riba kecuali riba nasi’ah (riba yang muncul dalam hutang piutang) (HR. Bukhari dan Muslim). Akibatnya riba al-fadl yaitu riba yang muncul akibat suatu transaksi, baik jual beli atau transaksi lainnya tidaklah haram. Tetapi dalam hadits lain Rasulullah bersabda: “janganlah kamu jual gandum dengan gandum, kecuali dalam jumlah yang sama (HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad bin Hanbal). Dalam hadits ini, riba al-fadl adalah haram. Jadi ada pertentangan antara hadits pertama dengan hadits kedua.

 

 

  1. Cara Penyelesaian Ta’arudh Al-Adillah

 

Jika dalam pandangan seorang mujtahid terjadi ta’arudh antara dua dalil, maka perlu dicarikan jalan keluarnya, dan di sini terdapat perbedaan pendapat antara kalangan Hanafiyah dan kalangan Syafi’iyah dalam cara penyelesaian ta’arudh.

Menurut kalangan Hanafiyah, jalan yang ditempuh jika terjadi ta’arudh secara global adalah:

  1. Dengan meneliti mana yang lebih dahulu diturunkannya ayat atau diucapkannya hadits, dan bila diketahui yang mana yang terdahulu turun dan mana yang belakangan, maka dalil yang terdahulu dianggap telah dinasakh (dibatalkan) oleh dalil yang datang belakangan.
  2. Jika tidak diketahui dalil mana yang lebih dahulu turun, maka cara selanjutnya adalah dengan tarjih, yaitu meneliti mana yang lebih kuat di antara dalil-dalil yang bertentangan itu dengan berbagai macam cara tarjih.
  3. Jika tidak bias di-tarjih karena ternyata kedua-duanya sama kuat, maka jalan keluarnya dengan mengkompromikan antara dua dalil itu.
  4. Jika tidak ada peluang untuk mengkompromikannya, maka jalan keluarnya adalah dengan tidak memakai kedua dalil tersebut dan mujtahid hendaklah merujuk kepada dalil yang lebih rendah bobotnya.

 

Menurut kalangan Syafi’iyah, seperti dijelaskan Wahbah Zuhaili, jika terjadi ta’arudh antara dua dalil, langkah-langkah yang dapat ditempuh adalah:

  1. Dengan mengkompromikan antara dua dalil itu selama ada peluang untuk itu, karena mengamalkan kedua dalil itu lebih baik dari pada hanya memfungsikan satu dalil saja.
  2. Jika tidak dapat dikompromikan, maka jalan keluar selanjutnya adalah tarjih.
  3. Selanjutnya jika tidak ada peluang untuk men-tarjih salah satu di antara keduanya, maka langkah selanjutnya adalah dengan meneliti mana di antara dua dalil tersebut yang lebih dulu datang. Maka dalil yang datang lebih dahulu dianggap telah dinasakh (dibatalkan) oleh dalil yang datang kemudian.
  4. Jika tidak mungkin untuk mengetahui mana yang datang terlebih dahulu, maka jalan keluarnya adalah dengan tidak memakai kedua dalil tersebut, dengan demikian mujtahid hendaklah merujuk kepada dalil yang lebih rendah bobotnya.

 

 

  1. Penutup

 

Kesimpulan

 

Terjadinya ta’arudh al-adillah bukanlah karena pada hakikat dalilnya, melainkan pada mujtahid yang melihatnya. Dengan demikian dapat dipastikan tidak ada kelemahan dalam dalil, terutama dalil yang berasal dari ayat-ayat Al-Qur’an, adapun dalil-dalil yang berasal dari hadits belum dapat dipastikan sebagai hadits yang shoheh, melainkan dapat juga bersifat dha’if.

Dan jika terdapat ta’arudh dalam melihat dalil, ada beberapa jalan keluar untuk menyelesaikannya, adapun ada perbedaan pendapat dalam peletakan pilihan jalan keluar yang diprioritaskan, namun pada umumnya pilihan jalan keluar yang ada sama.

 

Saran

 

Diharapkan pemakalah dapat lebih objektif dalam melihat kasus ta’arudh al-adillah, bukan berfikir negative terhadap pertentangan anatar dalil-dalil yang ada, karena sesungguhnya Al-Qur’an adalah kitab yang suci, dan tidak mungkin ada pertentangan dalam hakikatnya yang menunjukan kelemahannya, yang mungkin saja terjadi adalah perbedaan penafsiran dari pandangan mujtahid terhadap dalil-dalil yang ada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s