Wadhlih dan Ghairu Wadhlih (Ushul Fiqih)

Pendahuluan

            Wadlih atau Kejelasan dalalah nash ialah makna yang ditunjukkan oleh bentuk nash itu sendiri tanpa memperhatikan faktor luar . Jika nash itu menandung takwil, dan yang dimaksudkan bukan tujuan asal susunan katanya, disebut al-dhahir, jika mengandung takwil, bila yang dimaksudkan adalah tujuan asal susunan katanya, disebut al-nash, bila tidak mengandung takwil dan hukumnya menerima nash dinamakan al-mufassar (yang ditafsirkan), dan bila tidak mengandung takwil dan hukumnya tidak menerima nash, disebut al-muhakkam (yang ditentukan hukumnya).

Dasar perbedaan tingkatan-tingkatan kejelasan itu ialah mengenai ada atau tidak adanya kemungkinan mentakwilkannya. Nash yang maknanya dapat dipahami dari bentuk nash itu sendiri, dan tidak ada kemungkinan dapat dipahami arti lainnya, maka nash itu lebih jelas dalalahnya dari pada nash yang maknanya dapat dipahami, tapi ada kemungkinan dapat dipahami arti yang lainnya.

Selain Wadlih, ada ghairu wadlih yaitu nash yang tidak jelas dalalahnya. Nash ini melalui bentuknya sendiri dan tidak dapat menunjukkan arti yang dimaksudkannya bahkan untuk memahaminya saja harus menggunakan faktor dari luar. Jika nash atau dalil itu bisa dihilangkan kesamarannya dengan jalan meneliti dan melakukan ijtihad, maka dalil itu disebut al-khafi atau al-musykil . hal – hal yang berkaitan dengan wadhi dan ghairu wadhi selanjutnya akan kita paparkan lebih lanjut pada bagian pembahasan.

 

 

 

 

 

 

(2)

Pembahasan

v  Wadlih

Secara garis besar wadlih atau lafaz dari segi kejelasan artinya, terbagi kepada dua macam:

  1. Lafaz yang telah terang artinya dan jelas penunjukannya terhadap makna yang dimaksud, sehingga atas dasar kejelasan itu beban hukum dapat ditetapkan tanpa memerlukan penjelasan dari luar.
  2. Lafaz yang belum terang artinya dan belum jelas penunjukannya terhadap makna yang dimaksud kecuali dengan penjelasan dari luar lafaz itu.

Dalam wadlih atau kejelasan(lafaz yang jelas) itu para ulama ushul fiqh membagi wadlih(kejelasan) ini menjadi 4(empat) macam,yaitu:

  1. An-nash

Menurut bahasa, Nash adalah far’u asy-syai atau munculnya segala sesuatu yang nampak. Kedudukan nash sama dengan zhahir yaitu wajib diamalkan petunjuknya atau dilalahnya sepanjang tidak ada dalil yang menakwilkan, mentakshsis atau menasakhnya. Sebagaimana dicontohkan dalam firman Allah dalam surat al-baqarah ayat 275 :

šúïÏ%©!$# tbqè=à2ù’tƒ (#4qt/Ìh9$# Ÿw tbqãBqà)tƒ žwÎ) $yJx. ãPqà)tƒ ”Ï%©!$# çmäܬ6y‚tFtƒ ß`»sÜø‹¤±9$# z`ÏB Äb§yJø9$# 4 y7Ï9ºsŒ öNßg¯Rr’Î/ (#þqä9$s% $yJ¯RÎ) ßìø‹t7ø9$# ã@÷WÏB (#4qt/Ìh9$# 3 ¨@ymr&ur ª!$# yìø‹t7ø9$# tP§ymur (#4qt/Ìh9$# 4 `yJsù ¼çnuä!%y` ×psàÏãöqtB `ÏiB ¾ÏmÎn/§‘ 4‘ygtFR$$sù ¼ã&s#sù $tB y#n=y™ ÿ¼çnãøBr&ur ’n<Î) «!$# ( ïÆtBur yŠ$tã y7Í´¯»s9’ré’sù Ü=»ysô¹r& ͑$¨Z9$# ( öNèd $pkŽÏù šcrà$Î#»yz ÇËÐÎÈ

(3)

275. orang-orang yang Makan (mengambil) riba[174] tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila[175]. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu[176] (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.”

Secara nash, ayat tersebut bertujuan untuk menyatakan perbedaan nyata antara jual beli dengan riba sebagai sanggahan terhadap pendapat orang yang menganggapnya sama. Hal ini dapat dipahami dari ungkapan keseluruhan ayat tersebut.

 

  1. Az-zhahir

Zhahir adalah suatu nama bagi seluruh perkataan yang jelas maksudnya bagi pendengar, melalui bentuk lafaz itu sendiri. Sebagaimana dicontohkan dalam firman Allah SWT dalam surat al-hasyr ayat 7 :

!$¨B uä!$sùr& ª!$# 4’n?tã ¾Ï&Î!qߙu‘ ô`ÏB È@÷dr& 3“tà)ø9$# ¬Tsù ÉAqߙ§=Ï9ur “Ï%Î!ur 4’n1öà)ø9$# 4’yJ»tGuŠø9$#ur ÈûüÅ3»|¡yJø9$#ur Èûøó$#ur È@‹Î6¡¡9$# ö’s1 Ÿw tbqä3tƒ P’s!rߊ tû÷üt/ Ïä!$uŠÏYøîF{$# öNä3ZÏB 4 !$tBur ãNä39s?#uä ãAqߙ§9$# çnrä‹ã‚sù $tBur öNä39pktX çm÷Ytã (#qßgtFR$$sù 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# ( ¨bÎ) ©!$# ߉ƒÏ‰x© É>$s)Ïèø9$# ÇÐÈ

 7. apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota Maka adalah untuk Allah, untuk rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang Kaya saja di antara kamu. apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras. Hukumannya.

(4)

Adalah jelas mewajibkan taat kepada rasulullah SAW.dalam segala perintah dan larangannya, karena makna inilah yang segera dapat dipahami dari ayat. Dan itu bukan tujuan asal redaksi kata, karena tujuan asal redaksi kata ialah apa yang oleh Rasulullah SAW.didatangkan kepada kamu berupa harta fa’i ketika dibagikan, maka ambilah,dan apa yang dilarang oleh rasulullah SAW, dalam hal fa’i maka jauhilah hal itu.

 

  1. Mufassar

Mufassar adalah lafaz yang menunjukkan suatu hukum dengan petunjuk yang jelas dan tegas, sehingga petunjuknya itu tidak mungkin ditakwil atau ditakhsis, namun pada masa Rasulullah masih bisa dinasakh. Atas dasar definisi tersebut maka kejelasan petunjuk mufassar lebih tinggi daripada bentuk zhahir dan nash. Hal ini karena petunjuk zhahir dan nash  masih ada kemungkinan ditakwil atau ditaksis, sedangkan pada mufassar kemungkinan tersebut sama sekali tidak ada. Sebagai contoh firman Allah SWT pada surat Attaubah ayat 36 :

¨bÎ) no£‰Ïã ͑qåk’¶9$# y‰ZÏã «!$# $oYøO$# uŽ|³tã #\öky­ ’Îû É=»tFÅ2 «!$# tPöqtƒ t,n=y{ ÏNºuq»yJ¡¡9$# šßö‘F{$#ur !$pk÷]ÏB îpyèt/ö‘r& ×Pããm 4 šÏ9ºsŒ ßûïÏe$!$# ãNÍhŠs)ø9$# 4 Ÿxsù (#qßJÎ=ôàs? £`ÍkŽÏù öNà6|¡àÿRr& 4 (#qè=ÏG»s%ur šúüÅ2Ύô³ßJø9$# Zp©ù!%x. $yJŸ2 öNä3tRqè=ÏG»s)ムZp©ù!$Ÿ2 4 (#þqßJn=÷æ$#ur ¨br& ©!$# yìtB tûüÉ)­GãKø9$# ÇÌÏÈ

36. Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram[640]. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu Menganiaya diri[641] kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.

Lafaz “musyrikin” pada ayat tersebut pada mulanya dapat di taksis, namun dengan adanya lafaz “kaafatan” kemungkinan itu menjadi tidak ada.

(5)

            Hukum mufassar wajib diamalkan secara qath’i, sepanjang tudak ada dalil yang me-nasakh-nya. Lafaz mufassar tudak mungkin dipalingkan dari arti zhahirnya, karena tidak mungkin ditakwil dan ditakshsis, melainkan hanya bisa di-nasakh atau diubah apabila aada dalil yang mengubahnya.

Dengan demikian dilalah mufassar lebih kuat daripada dilalah zhahir dan dilalah nash. Maka daripada itu apabila ada pertentangan antara dilalah mufassar dengan dilalah zhahir dan nash maka dilalah mufassar-lah yang harus didahulukan.

 

  1. Muhkam

Muhkam adalah suatu lafaz yang menunjukkan makna dengan dilalah tegas dan jelas secara qath’i, dan tidak mempunyai kemungkinan ditakwil, ditakshsis dan di-nash meskipun pada masa Nabi, lebih-lebih setelah masa Nabi.  Contohnya seperti pada firman Allah dalam surat An-Nur ayat 4 :

tûïÏ%©!$#ur tbqãBötƒ ÏM»oY|ÁósßJø9$# §NèO óOs9 (#qè?ù’tƒ Ïpyèt/ö‘r’Î/ uä!#y‰pkà­ óOèdr߉Î=ô_$$sù tûüÏZ»uKrO Zot$ù#y_ Ÿwur (#qè=t7ø)s? öNçlm; ¸oy‰»pky­ #Y‰t/r& 4 y7Í´¯»s9’ré&ur ãNèd tbqà)Å¡»xÿø9$# ÇÍÈ

4. dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik[1029] (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, Maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. dan mereka Itulah orang-orang yang fasik.

Kata “Abada” (selama-lamanya) yang tersebut dalam ayat itu menunjukkan bahwa tidak diterima kesaksiannya itu berlaku untuk selamanya, dalam arti tidak dapat dicabut.

Ketentuan lafaz muhkam bila menyangkut hukum adalah wajib, sehingga tidak mungkin tidak dipahami dan di nasakh oleh dalil lain. Penunjukkan lafaz muhkam atas hukum lebih kuat dibandingkan dengan tiga bentuk lafaz sebelumnya, sehingga bila berbenturan pemahaman antara lafaz muhkam dengan yang lain, lafaz muhkam harus didahulukan.

(6)

v  Ghairu Wadhih

Ghairu wadhih atau lafaz yang tidak jelas artinya. Maksudnya nash yang bentuknya itu sendiri tidak bisa menunjukkan kepada adrti yang dimaksud daripadanya, bahkan untuk memahami maksud daripadanya memerlukan faktor dari luar. Ghairu wadhih terbagi menjadi 4 :

  1. Khafi

Pengertian khafi menurut bahasa adalah tidak jelas atau tersembunyi, sedangkan menurut istilah adalah suatu lafaz yang maknanya menjadi tidak jelas karena hal baru yang ada di luar lafaz itu sendiri sehingga arti lafaz itu perlu diteliti secara mendalam. Misalnya, arti pencuri dalam surat Al-maidah ayat 38 :

ä-͑$¡¡9$#ur èps%͑$¡¡9$#ur (#þqãèsÜø%$$sù $yJßgtƒÏ‰÷ƒr& Lä!#t“y_ $yJÎ/ $t7|¡x. Wx»s3tR z`ÏiB «!$# 3 ª!$#ur ͕tã ÒOŠÅ3ym ÇÌÑÈ

38. laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

 

Secara umum pengertian pencuri cukup jelas, yaitu orang yang mengambil harta orang lain secara sembunyi dari tempat penyimpanan yang layak baginya. Ketidak jelasan timbul ketika menerapkan ayat itu kepada tukang copet yang secara lihai bisa memanfaatkan kelalaian seseorang untuk menguras harta seseorang,apakah hal itu termasuk ke dalam pengertian pencuri atau tidak? Untuk mencari jawabannya adalah dengan jalan ijtihad, dengan meneliti apakah pengertian itu termasuk ke dalam pengertian ayat sesuai dengan cara suatu lafal yang menunjukkan suatu pengertian.

 

  1. Musykil

Musykil adalah lafaz yang tidak jelas pengertiannya, dan ketidakjelasan itu disebabkan oleh lafaz untuk beberapa pengertian yang berbeda sehingga untuk mengetahui pengertian mana yang dimaksud dalam sebuah redaksi memerlukan indikasi atau dalil dari luar seperti lafaz musytarak (lafaz yang diciptakan untuk beberapa pengertian yang berbeda hakikatnya). Misalnya, lafaz quru’ (jamak dari qur’an) dalam surat Al-baqarah ayat 228 :

 

(7)

àM»s)¯=sÜßJø9$#ur šÆóÁ­/uŽtItƒ £`ÎgÅ¡àÿRr’Î/ spsW»n=rO &äÿrãè% 4 Ÿwur ‘@Ïts† £`çlm; br& z`ôJçFõ3tƒ $tB t,n=y{ ª!$# þ’Îû £`ÎgÏB%tnö‘r& bÎ) £`ä. £`ÏB÷sム«!$$Î/ ÏQöqu‹ø9$#ur ̍ÅzFy$# 4 £`åkçJs9qãèç/ur ‘,ymr& £`ÏdÏjŠtÎ/ ’Îû y7Ï9ºsŒ ÷bÎ) (#ÿrߊ#u‘r& $[s»n=ô¹Î) 4 £`çlm;ur ã@÷WÏB “Ï%©!$# £`ÍköŽn=tã Å$rá÷èpRùQ$$Î/ 4 ÉA$y_Ìh=Ï9ur £`ÍköŽn=tã ×py_u‘yŠ 3 ª!$#ur ͕tã îLìÅ3ym ÇËËÑÈ

228. wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru'[142]. tidak boleh mereka Menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki ishlah. dan Para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. akan tetapi Para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya[143]. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Kata “quru’” dalam ayat tersebut dalam pemakaian bahasa Arab bisa berarti masa suci dan bisa pula berari masa haid. Imam syafi’i mengartikannya dengan masa suci, sedangkan Abu hanifah mengartikannya dengan masa haid. Masing-masing mengambil kesimpulan berbeda itu didasarkan kepada qarinah atau dalil dari luar yang berbeda pula. Begitulah setiap lafaz musykil dalam Al-qur’an dan Sunnah, untuk memahaminya memerlukan upaya ijtihad dalam mencari pengertiannya. Dan apabila ditinjau dari segi kekuatan, musykil lebih tinggi kadarnya daripada khafi.

 

  1. Mujmal

Mujmal menurut istilah ulama Ushul ialah lafaz yang bentuknya tidak dapat menunjukkan pengertian yang dikandung olehnya dan tidak terdapat petunjuk-petunjuk lafaz atau keadaan yang dapat menjelaskannya. Jadi sebab kesamaran dalam mujmal ini bersifat lafdzi, bukan sifat yang baru datang.

Yang temasuk al-mujmal ialah lafaz-lafaz yang pengertian bahasanya dipindah oleh syari’ untuk pengertian-pengertian istilah syara’ secara khusus.  Seperti            lafaz shalat, menurut bahasa berarti doa, tetapi menurut istilah syara adalah ibadah khusus yang segala sesuatunya dijelaskan oleh Rasulullah. Dengan demikian dapat dikatakan mujmal lebih tinggi

(8)

kadar khafanya daripada musykil, sebab penjelasan mujmal diperoleh dari syara’ bukan hasil ijtihad.

  1. Mutasyabih

Mutasyabih ialah lafaz yang petunjuknya memberikan arti yang dimaksud oleh lafaz itu sendiri, sehingga tidak ada di luar lafaz yang dipergunakan untuk memberikan petunjuk tentang artinya dan juga syara’ tidak menerangkan tentang artinya. Contohnya dalam surat Al-mujadilah ayat 7 :

öNs9r& ts? ¨br& ©!$# ãNn=÷ètƒ $tB ’Îû ÏNºuq»yJ¡¡9$# $tBur ’Îû ÇÚö‘F{$# ( $tB Ücqà6tƒ `ÏB 3“uqøgªU >psW»n=rO žwÎ) uqèd óOßgãèÎ/#u‘ Ÿwur >p|¡÷Hs~ žwÎ) uqèd öNåkޝϊ$y™ Iwur 4’oT÷Šr& `ÏB y7Ï9ºsŒ Iwur uŽsYò2r& žwÎ) uqèd óOßgyètB tûøïr& $tB (#qçR%x. ( §NèO Oßgã¤Îm6t^ム$yJÎ/ (#qè=ÏHxå tPöqtƒ ÏpyJ»uŠÉ)ø9$# 4 ¨bÎ) ©!$# Èe@ä3Î/ >äóÓx« îLìÎ=tæ ÇÐÈ

7. tidakkah kamu perhatikan, bahwa Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya. dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau

lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.

 

Ayat yang mengandung lafaz yang mutasyabih seolah-olah menyerukan Tuhan dengan makhluk-Nya seperti lafaz tangan, mata dan Allah berada di dekat manusia, tidak mungkin diketahui arti dan maknanya melalui bahasa karena Allah mahasuci dari kemiripan dengan makhluk-Nya.

Dalam mengahadapi lafaz mutasyabih ini, para ulama berbeda pendapat. Para ulama salaf hanya menyerahkan kepada Allah saja, karena Allah yang Mahatahu tentang arti dan maknanya, sedangkan manusia mengimaninya dan tidak mencari-cari takwilnya. Namun, para ulama khalaf berusaha untuk menghilangkan kesamarannya dengan mencari takwil

(9)

yang tepat. Umpamanya lafaz yad (tangan) ditakwil-kan dengan kekuasaan, lafaz ain (mata)

ditakwilkan dengan pengawasan, dan lafaz yang menggambarkan Allah beserta manusia ditakwilkan dengan pengetahuan-Nya maha meliputi. Maka dengan cara ini barulah hilang kesamaran lafaz mutasyabihat.

 

 

 

 

 

Kesimpulan

 

Tingkatan kejelasan dari suatu lafaz terbagi menjadi empat bagian yaitu lafaz zhahir, lafaz nash, lafaz mufassar dan yang terakhir adalah lafaz muhkam. Masing-masing mempunyai kedudukan penting dalam menafsirkan suatu redaksi. Sedangkan tingkatan ketidakjelasan dari suatu lafaz juga terbagi menjadi empat tingkatan yaitu lafaz khafi, lafaz musykil, lafaz mujmal dan lafaz mutasyabih.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(10)

Daftar Pustaka

Syafe’i, Rahmat, Ilmu Ushul Fiqih,CV Pustaka Setia, Bandung, 2007.

Aminudin, Ahyar, Ushul Fiqih II, CV Pustaka Setia, Bandung, 1989.

Effendi, Satria, Pengantar Ushul Fiqih, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2008.

Kaidah-kaidah Hukum Islam: (ilmu ushulul fiqh)/oleh Abdul Wahhab Khallaf; Penerjemah, Noer Iskandar al-Barsany, mOh. Tolchah Mansoer, Ed. 1., Cet.8. Jakarta , Jakarta, 2002.

Khallaf, Abdul Wahhab, Ilmu Ushulul Fiqh, Gema Risalah Pers, Cet. I. Bandung, 1996.

Syarifuddin, Amir, Ushul Fiqh Jilid 2, Kencana Prenada Media Group,. Ed.1, Cet. 4. Jakarta . 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s