Fiqih Mawaris

1. Syarat – Syarat dan Rukun Pembagian Warisan
Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam pembagian warisan. Sebagian mengikuti rukun, dan sebagian berdiri sendiri. Rukun pembagian warisan warisan ada 3 :
a) Al-Muwaris , yaitu orang yang diwarisi harta peninggalannya atau orang yang mewariskan hartanya . Syaratnya , al-muwaris benar – benar telah meninggal dunia .
b) Al – Waris atau ahli waris adalah orang yang dinyatakan mempunyai hubungan kekerabatan baik karena hubungan darah, hubungan sebab perkawinan atau akibat memerdekan hamba sahaya . Syaratnya, ahli waris pada saat meninggalnya al – muwaris dalam keadaan hidup , termasuk bayi dalam kandungan .
Ada syarat lain yang harus dipenuhi, yaitu bahwa diantara al – muwaris dan al – waris tidak ada halangan ( mawani’ al-iris) untuk mewarisi .
c) Al – Maurus atau Al – Miras yaitu harta peninggalan si mati setelah dikurangi biaya perawatan jenazah, pelunasan hutang, dan pelaksanaan wasiat.

2. Macam – macam ahli waris
a) Ahli waris nasabiyyah
Ahli waris nasabiyyah adalah ahli yang pertalian kekerabatannya kepada ahli waris berdasarkan hubungan darah. Ahli waris nasabiyyah ini berjumlah 21 orang, 13 laki – laki , 8 perempuan .
Ahli waris laki – laki , berdasarkan urutan kelompoknya :
1. Anak laki – laki
2. Cucu laki – laki garis laki – laki dan seterusnya ke bawah
3. Bapak
4. Kakek dari bapak
5. Saudara laki – laki sekandung
6. Saudara laki – laki seayah
7. Saudara laki – laki seibu
8. Anak laki – laki saudara laki – laki sekandung
9. Anak laki – laki saudara laki – laki seayah
10. Paman
11. Paman seayah
12. Anak laki – laki paman sekandung
13. Anak laki – laki paman seayah

Adapun ahli waris perempuan, berdasarkan urutan kelompoknya :
1. Anak perempuan
2. Cucu perempuan garis laki – laki
3. Ibu
4. Nenek garis bapak
5. Nenek garis ibu
6. Saudara perempuan sekandung
7. Saudara perempuan seayah
8. Saudara perempuan seibu

b) Ahli waris sababiyah
Ahli waris yang hubungan pewarisannya timbul karena sebab – sebab tertentu, yaitu :
1. Sebab perkawinan, yaitu suami atau istri
2. Sebab memerdekakan hamba sahaya

3. Ahli waris ashabul furud
Pada umumnya ahli waris ashabul furud adalah perempuan, sementara ahli waris laki – laki yang menerima bagian tertentu adalah bapak, kakek, dan suami, selain itu mereka juga menerima bagian sisa (ashabah) .
Yang termasuk ashabul furud :
a) Anak perempuan
b) Cucu perempuan garis laki – laki
c) Ibu
d) Bapak
e) Nenek
f) Kakek
g) Saudara perempuan sekandung
h) Saudara perempuan seayah
i) Saudara seibu
j) Suami
k) Istri

4. Ahli waris ashabah
Ashabah adalah bagian sisa setelah diambil oleh ahli waris ashabul furud .

( HADIST )
Macam – macam ahli waris ashabah ada 3 :
a) Ashabah bi nafsih
Yaitu ahli waris yang karena kedudukan dirinya sendiri berhak menerima bagian ashabah, semuanya terdiri laki – laki kecuali mu’tiqah ( perempuan yang memerdekakan hamba sahaya ) yaitu :
1. Anak laki – laki
2. Cucu laki-laki dari garis laki-laki
3. Bapak
4. Kakek
5. Saudara laki-laki sekandung
6. Saudara laki-laki seayah
7. Anak laki-laki saudara laki-laki sekandung
8. Anak laki – laki saudara laki – laki seayah
9. Paman sekandung
10. Paman seayah
11. Anak laki – laki paman sekandung
12. Anak laki – laki paman seayah
13. Mu’ti atau Mu’tiqah

b) Ashabah bil ghair
Yaitu ahli waris yang menerima bagian sisa karena bersama – sama dengan ahli waris yang menerima bagian sisa, yaitu :
1. Anak perempuan bersama dengan anak laki – laki
2. Cucu perempuan garis laki –laki bersama dengan cucu laki – laki garis laki – laki
3. Saudara perempuan sekandung bersama dengan saudara laki – laki sekandung
4. Saudara perempuan seayah bersama dengan saudara laki – laki seayah

c) Ashabah maal ghair
Yaitu ahli waris yang menerima bagian ashabah karena bersama ahli waris lain yang bukan penerima bagian ashabah, yaitu :
1. Saudara perempuan sekandung (seorang atau lebih ) karena bersama dengan anak perempuan ( seorang atau lebih ) atau bersama dengan cucu perempuan ( seorang atau kebih )
2. Saudara perempuan seayah ( seorang atau lebih ) sbersama dengan anak atau cucu perempuan ( seorang atau kebih )

5. Ahli waris yang terhijab
Hijab secara harfiyah berarti satir, penutup atau penghalang . dalam fiqih mawaris istilah hijab digunakan untuk menjelaskan ahli waris yang jauh hubungan kekerabatannya yang kadang – kadang atau seterusnya terhalang oleh ahli waris yang lebih dekat . Orang yang menghakangi disebut hajib, orang yang terhalang disebut mahjub dan keadaan yanh menghalangi disebut hijab .
Hijab ada 2 macam , yaitu :
a) Hujab Nuqsan
Yaitu, menghalangi yang berakibat mengurangi bagian ahli waris yang mahjub .
b) Hijab Hirman
Yaitu, menghalangi secara total, hak – hak waris si mahjub tertutup sama sekali oleh ahli waris yang menghijab .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s