The Art of Organization

Berangkat dari hal-hal sederhana, akhirnya saya memutuskan mendaftar bergabung dari bagian PPI kampus saya sekarang ini. Emang apa sih ‘hal’nya itu? Jadi, ketika proses pendaftaran ke universitas, saya mencoba mengubungi PPI melalui wall facebook. Namun, tidak ada respon. Ngerasa dikacangin? Ya, gitu deh. Hal lain adalah saya sebagai mahasiswa master merasa tidak dirangkul oleh PPI. Jadi aja kalau ada acara males-malesan, cenderung gak peduli juga. Hingga singkatnya, adalah kesempatan itu ketika senior saya menjadi wakil ketua di PPI periode ini. Dimana ini membuka peluang dan insight bagi kita para master yang cenderung masih muda untuk bergabung.

Misi saya ketika itu sederhana saya akan masuk MEDIFO dengan tujuan akan melayani seluruh pertanyaan calon mahasiswa ataupun umum dalam media PPI dan juga karena hobi saya dalam penyebaran informasi, sih. Semua itu karena saya sebagai calon mahasiswa tidak merasa dirangkul. Ohya padahal, dulu saya selalu jadi bagian internal organisasi yang mana saya lebih fokus pada dinamika, hubungan dan kualitas member internal organisasi. Saya peka terhadap masalah-masalah internal dan personal. Saya masuk kesana agar para kader, istilah member di organisasi itu, merasa bahwa organisasi adalah rumah dan wadah untuk berkembang. Tidak hanya sekedar melaksanakan program kerja tapi sehat di dalam urusan akademik dan personal.

Maka ketika saya diterima menjadi salah satu anggota divisi di PPI, jobdesk nya tentu bertolak belakang. Hal ini membuat saya adalah anggota dengan skill paling rendah untuk kreativitas publikasi. Well, yah yang saya bisa, dan yang saya incar, memang mengelola media sosial terutama facebook, dan juga mendokumentasikan acara-acara PPI bergantian dengan member yang lain. Bahkan kalau diingat, saya sampai membeli kamera digital. Ckckck. Saya pikir, yah itu usaha saya.

Lalu dimana sih art nya? Kan judulnya The Art of Organization. Yah, disini saya bekerja dan dibawah koordinasi mahasiswa undergraduate aka S1. Dalam divisi tersebut saya paling tua dan skill-less. Ugh. Sedih? Yah, kadang. Tapi saya berusaha improve dan mengerjakan hal-hal kecil yang luput dari perhatian.

Dihargai? Keseringan sih nggak🙂 Malah saya tau dan sadar koordinator saya menaruh sebal sama saya. Well, saya jadi ingat adalah nature manusia untuk mudah melihat sisi jelek yang seupil dan melupakan sisi baik yang segunung. Semut di seberang lautan terlihat, gajah dipelupuk mata tidak.

Semua adalah tantangan bagi saya. Dalam keadaan normal atau kalau boleh recall jama S1 dulu, saya sudah pasti akan menanggapi semua dengan emosi. Tapi sekarang, yah faktor umur ya, saya melihat semua dari sisi yang lebih bijaksana. Saya tidaklah menganggapi dengan emosi. Bukan karena saya sadar saya tidak kompeten, tapi yah ini proses belajar. Dan saya secara natural harus bisa mengayom, bukan malah menyulut api.

Saya harus sering-sering ingat, tidak apa kerja kecil, namun ikhlas. Toh, misi saya tercapai🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s