Idul Adha: Sebuah Kontemplasi Diri

Pernah gak sih denger ceramah yang bilang bahwa Allah itu maha kaya, bahwa Allah tidak memerlukan apa-apa dari kita yang nista ini, sehingga tidak masalah bagi-Nya kalau kita pelit atau royal dalam berderma, toh kalau memilih royal kebaikannya untuk kita juga. Sedangkan dari ceramah lain sang penceramah berkata bahwa harta kita adalah milik Allah, tidak seharusnya kita ragu-ragu dalam mengeluarkan uang kita untuk kegiatan yang bertujuan jihad fisabilillah.

Dua pendapat tersebut tidak ada yang salah, tergantung bagaimana kita menyikapinya saja. Hanya, darisitu saya agak merenung, mencoba mencari irisan dari dua sisi diatas. Lebih tepatnya mencari dititik mana saya harus bersikap.

Perenungan tersebut berbuah pada pemikiran cetek saya, yang entah kenapa menjadi sesuatu yang saya yakini karena hati saya mantap olehnya. Semua harta di dunia dan akhirat adalah milik Allah seutuhnya, sehingga harta yang tersebar pada umat manusia hanyalah yang titipan yang Allah ingin kita kelola. Kalau sok-sok mau buat drama, kita itu agen distribusi harta antar umat manusia. Ketika Allah titipkan harta yang terlampau banyak terhadap kita, maka tugas distribusi kita menjadi lebih berat. Dan ketika kita patuh, giat dan lillahi taala menjalankan tugas kita, maka ‘upah’ yang Allah beri kepada kitapun akan tak terhingga. Istilahnya sih, kalau ada pelayan yang loyal, bos mana yang gak sayang? Bos mana yang gak ragu-ragu kasih tips banyak? Disitulah misi dari zakat, wakaf dan sedekah. Si punya segala, bertugas untuk distribusi ke si belum punya segala.

Hal ini berbeda pada idul adha. Kita di encourage untuk berkurban binatang ternak seperti kambing, sapi, unta dan sebagainya. Ya, berkurban. Saya memahaminya sebagai hal yang diharuskan bahkan ketika kita tidak punya. Uang kita yang tidak seberapa ditantang untuk dikelurkan kurbannya. Terlihat bedanya dengan zakat, wakaf dan sedekah tadi bukan? Saya sempat bertanya-tanya apakah saya mampu berkurban lagi tahun depan. Dengan renungan ini saya bisa menjawabnya, bahwa ketika sedang seret pun, saya harus mengeluarkan uang yang saya cintai ini, uang yang susah mengumpulkannya ini untuk berkurban. Tidak peduli berapapun nominalnya. Karena itulah intinya. Berkurban. Inilah kurban saya yang tentu bisa berbeda pada tiap kalian.

Dan, hei, jangan cemas. Ini hanyalah ujian keloyalan pegawai pada atasannya. Bahwa disaat terdesak, tetap setiakah kita pada titah-Nya. Dan jika kita berhasil menjalankan ujiannya dengan baik, Allah berjanji, besar ‘upah’nya bahkan tidak akan bisa kita bayangkan. Wallahu alam.


Idul Adha 1437 H.

2 thoughts on “Idul Adha: Sebuah Kontemplasi Diri

  1. Kita dituntut berkoban jika mampu dan lebih bermakna jika kita dapat memahami erti sebenar pengorbanan iaitu kepatuhan dan pengorbanan Nabi Ibrahim a.s dan keluarganya dalam mentaati perintah Allah s.w.t. Saya bertanya kepada diri saya, adakah saya mampu melaksanakannya jika saya ditempat Nabi Ibrahim a.s untuk mengorbankan anaknya Ismail? Saya tahu ada hamba Allah yang saat ingin menikmati sup kambing berlinangan air matanya kerana mengenangkan pengorbanan Nabi Ibrahim a.s. Harapnya ibadah korban yang kita jalani ini akan memberi erti yang sebesar-besarnya kepada kehidupan kita dan khususnya menyemai ketaatan kita kepada Allah s.w.t.

    Tahniah Izza for your qurban this year. May Allah grants you again next year, Insya Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s