What I want to be?

Couple months to graduate from this master program, I started asking myself, What will I become? Um, nope, what I want to be? It might be a more suitable question to be answered. Being a student for almost the rest of my life makes me really comfortable till I forget that there is next stage of life in front of my eyes.

It is my last semester, there are only two classes I need to take and one more independent study left. Well, I have a bunch free time. Till then one random moment I downloaded webtoon and started to read comics from there. There were couple interesting stories I keep reading and waiting for the next chapter. The last one I read has only 28 episodes, the shortest story yet strong enough to push me producing one writing here.

The title was Annarasumanara. Weird, huh? At first, I just randomly open this since I had nothing to do. The story a bit confuse me at first. But then I got attack from ending. The story was serving an education life in South Korea while good grade is everything. Its either you who obsess become a top class or your parents. In this story, the parents that one who have obsession toward their children to become top in class and society. Te problem is they do not even questioning what their children like and what they want to do in future.

The main character here was a magician called L. He once became a top student and received much pressure on his life because of it. He was pushed to be in the top class of society, have a good job, big salary and typical success according to the society. Till in one condition that he started to have illusions, act like he is a kid and refuse to become an adult because he does not want to live in what kind of adult life nowadays. I do not know how to describe it but let me jump to the point.

Is it society or ourselves who decide our future? Do we really need to hear people talk about us when we decided to do what we want although it is not like typically an ideal thing in society? Can we just do whatever makes us happy even it is not earning a lot of money? Is it crazy to not live like what ideal society told us? Can we just enjoy what we like? Can we just close our ears?

Those questions haunt me now. Until almost the end of writing this, I still do not know what to do in my future. What should I do after graduate? Am I looking for a good job with good salary, a good husband and comfortable life? The sure thing is I decided to not drawn by a concept of what ideal society is. I won’t let what people said bring me down. I will just.. survive with whatever I decide later as long as I am happy with it. I promise. Sigh.

Advertisements

Facebook: a Nostalgia

Belum lama ini saya banyak nge-klik-in post-post facebook yang udah lamaaaa banget.. Awalnya karena lihat post-an lama muncul di beranda tidak tahu apa sebabnya. Akhirnya saya scroll profile page saya sebawah mungkin yang saya bisa. Pas bacain atau lihat-lihat foto jadul itu, timbullah senyum-senyum sambil kadang bingung karena ngerasa gak pernah nulis post itu atau sesekali ngerasa rada alay. Satu hal yang menarik sampai akhirnya saya pun membuka dan memutuskan untuk mem-post tulisan ini di blog yang sudah lamaaaaa banget nggak dibuka (O_^)?

Jaman-Jaman SMA -__-

Jaman-Jaman SMA -__-

Sejauh saya mampu mengingat, saya buka akun Facebook sekitar akhir tahun 2008 dimana teman saya entah kenapa dengan gemes membuatkan saya sebuah akun langsung di depan mata. Di tahun-tahun itu postingan saya masih ramai dengan teman-teman SMA.. Entah itu foto, status atau kiriman wall.. Setahun kemudian, tahun 2009, isinya mulai banyak teman-teman kuliah saya.. Kalau diperhatikan sampai tahun 2011 barulah ada muka-muka baru disana.. Siapa lagi kalau bukan teman-teman KKN.. Wall saya mulai banjir oleh member-member KKN. Apa deh nama kelompok kita? KKN 25. Ga kreatif. Sesuai nomor regu banget haha.

My master's circle

My master’s circle

Btw, saya beruntung punya grup yang Alhamdulillah ga-terlalu-banyak konflik, saling papah satu sama lain dan kedekatannya cukup terjaga hingga sekarang.. Soalnya banyak dengar grup lain banyak banget baladanya. Yah, walaupun tentu saja warna-warna kedekatan itu lama-lama memudar juga. Kenapa? karena kita sudah berganti masa. Orang-orang sekitar saya pun berubah. Lingkungan hidup saya baru lagi. Sudah bisa ditebak kalau teman-teman baru, post dan tag-an foto mayoritas saya dapat dari teman-teman kuliah master saya..

Hal ini berakhir pada suatu pemikiran, suatu saat yang mana waktunya sudah dekat, semua akan berganti masa dan berganti lingkungan. Tidak hanya saya, pastinya begitu juga dengan teman-teman saya. Walaupun hanya di media sosial, namun perlahan mereka akan juga memudar. Kontak kita tidak akan seintens biasanya. Orang-orang baru akan memenuhi fase hidup dari masing-masing kita. Pertemuan kita hanya akan ada di reuni atau acara pernikahan saja.  Pertanyaannya, sudah siapkah saya? 🙂

The Art of Organization

Berangkat dari hal-hal sederhana, akhirnya saya memutuskan mendaftar bergabung dari bagian PPI kampus saya sekarang ini. Emang apa sih ‘hal’nya itu? Jadi, ketika proses pendaftaran ke universitas, saya mencoba mengubungi PPI melalui wall facebook. Namun, tidak ada respon. Ngerasa dikacangin? Ya, gitu deh. Hal lain adalah saya sebagai mahasiswa master merasa tidak dirangkul oleh PPI. Jadi aja kalau ada acara males-malesan, cenderung gak peduli juga. Hingga singkatnya, adalah kesempatan itu ketika senior saya menjadi wakil ketua di PPI periode ini. Dimana ini membuka peluang dan insight bagi kita para master yang cenderung masih muda untuk bergabung.

Misi saya ketika itu sederhana saya akan masuk MEDIFO dengan tujuan akan melayani seluruh pertanyaan calon mahasiswa ataupun umum dalam media PPI dan juga karena hobi saya dalam penyebaran informasi, sih. Semua itu karena saya sebagai calon mahasiswa tidak merasa dirangkul. Ohya padahal, dulu saya selalu jadi bagian internal organisasi yang mana saya lebih fokus pada dinamika, hubungan dan kualitas member internal organisasi. Saya peka terhadap masalah-masalah internal dan personal. Saya masuk kesana agar para kader, istilah member di organisasi itu, merasa bahwa organisasi adalah rumah dan wadah untuk berkembang. Tidak hanya sekedar melaksanakan program kerja tapi sehat di dalam urusan akademik dan personal.

Maka ketika saya diterima menjadi salah satu anggota divisi di PPI, jobdesk nya tentu bertolak belakang. Hal ini membuat saya adalah anggota dengan skill paling rendah untuk kreativitas publikasi. Well, yah yang saya bisa, dan yang saya incar, memang mengelola media sosial terutama facebook, dan juga mendokumentasikan acara-acara PPI bergantian dengan member yang lain. Bahkan kalau diingat, saya sampai membeli kamera digital. Ckckck. Saya pikir, yah itu usaha saya.

Lalu dimana sih art nya? Kan judulnya The Art of Organization. Yah, disini saya bekerja dan dibawah koordinasi mahasiswa undergraduate aka S1. Dalam divisi tersebut saya paling tua dan skill-less. Ugh. Sedih? Yah, kadang. Tapi saya berusaha improve dan mengerjakan hal-hal kecil yang luput dari perhatian.

Dihargai? Keseringan sih nggak 🙂 Malah saya tau dan sadar koordinator saya menaruh sebal sama saya. Well, saya jadi ingat adalah nature manusia untuk mudah melihat sisi jelek yang seupil dan melupakan sisi baik yang segunung. Semut di seberang lautan terlihat, gajah dipelupuk mata tidak.

Semua adalah tantangan bagi saya. Dalam keadaan normal atau kalau boleh recall jama S1 dulu, saya sudah pasti akan menanggapi semua dengan emosi. Tapi sekarang, yah faktor umur ya, saya melihat semua dari sisi yang lebih bijaksana. Saya tidaklah menganggapi dengan emosi. Bukan karena saya sadar saya tidak kompeten, tapi yah ini proses belajar. Dan saya secara natural harus bisa mengayom, bukan malah menyulut api.

Saya harus sering-sering ingat, tidak apa kerja kecil, namun ikhlas. Toh, misi saya tercapai 🙂

Ho Chi Minh City: A Review

This is a, not that short, review about my last trip to Ho Chi Minh, Vietnam. Overall, I enjoyed my stay there. In fact, there is much thing I have not explore there and if I have chance, I feel like I am going back there and explore another state 🙂

Will you come back to Ho Chi Minh city?

Well, If you like to do shopping activity, want to buy branded equipment for sport from head to toe, coffee freak and cloth in the cheap price. You SHOULD come back there.

What do you like from Ho Chi Minh?

All is cheap there. It is backpacker friendly in term of budget.

Where we should stay?

District 1. Near by Ben than Market. I stayed in Mai Guest House after back and fourth read the review about accommodation. It is located in Pham ngu lao street. You can say its a backpacker area. So many guest house and travel agent there. However, it is kinda far from Ben than market which become the centre, it is like 1 km if you look from Google map. For backpacker that is okay to stay there. But I do not recommend it for family trip. You can choose the place nearer by Ben than.

Recommended place to visit?

Typically a city, Ho Chi Minh has no natural scenery to be enjoyed. However, you can find many historical buildings and museums. From all of the possible list must visit in the town, I strongly recommend you to visit War Remnant museum. You can see the story behind the Vietnam war. You are going to get emotional, I bet.
Shopping addict? Ben than market and sport stores near by Puppet water show building. You can find branded sport equipments from head to toe with very cheap price. Well, I feel like I wanna go back there and crazily buy back and shoes of Nike or Adidas. Haha.

Is there any impressive thing there?

The road condition is very impressive there. Haha. Countless motorcycles, superb driving skills, awesome crossroad ability and…. we all alive. There is funny sarcasm said: Green light: I can go. Yellow light: I can go. Red light: I STILL can go. LoL.

Uhm, another thing is, I do like their toilet. It is clean! Even in the public toilet. Well, that is simple, but for me that is precious thing.

Phuc Long coffee shop and its Wifi.

Anything you do not like there?

Almost along the road, I smelled uncomfortable thing like urine and things 😦

The seller in the market is too pushy. They also cursing us sometimes when we did not buy something or refuse to listen they offer. Bad attitude, huh?

They thing all hijabers are Malaysian. Ugh, somehow I do not like it when they kept calling us ‘kakak’ and thinks we all Malaysian. I mean, its not because of Malaysia, it is because they stereotyping us.

There are many districts, is there any interesting place besides District 1?

From my experience, I can say No. We came to district 5, Bin thai market and it was close early. The district 5 is much different with district 1. It is more quite and like no life there :p After that, I dont feel like wanna explore another district.

Muslim’s life?

Due to a big number of Malaysian visit Ho Chi Minh to do shopping, the are many Halal restaurant available around Ben than market. Thus, its very expensive there but still tolerable. Be careful, there are some restaurant use Halal sign but they do not have Halal certificate. Mostly, its Indian or Pakistan restaurant. They still sell beer even though use Halal sign. I heard it is for attract Muslim customer so they use the sign.

During my stay I only came to 1 mosque that I forgot the name. And one more I just passed by from bus. For the Vietnamese Muslim, I do not really know. I only had chance to meet my friend’s friend. She is Muslim and wears hijab. She studied in Indonesia before and able to speak Bahasa Indonesia. Others than her, I have no chance to find out 😦

Phuc Long coffee and tea shop.

My friend of friend asked us to meet in this coffee shop. I assume all of drinks there are safe. However, once, I ordered one drink namely, if i am not mistaken, tropical fruit cocktail, and you know what, it is contain alcohol. Luckily, I saw the process, so I noticed when they put alcohol there. It was my fault actually, so, better ask first before order.

Heaven of Fruits.

I saw many fresh fruits seller. Its is heaven for me. Sadly, I have doubtness to buy, worry the knife they use or their hand probably touch something prohibited. Anyway, it might contaminated by dust and dirt (calming down myself). So, I decided to let it go.. Let it go..

Menengoklah ke Belakang

Memiliki kelemotan dalam mencerna pelajaran membuat saya senang duduk dibarisan terdepan. Baik sih untuk pelajaran. Tapia da efek kurang baik dalam lingkup social.

Sebagai contoh, 2 skenario ini seringkali terjadi.

Scenario 1

Hai! Habis kelas apa?

Loh kan kita kelasnya sama.

Oh iya? Aduh kamu duduk dimana?

Di belakang, aku lihat kamu kok duduk di depan kan..

Iya…

Scenario 2

Hai! Kamu ambil kelas apa aja semester ini?

Macro, kamu juga kan? Sama blab la dan bla bla.. kita ada 2 kelas bersama.

Oh really? Aduh..

You got me right? Next time I will look around the class lah.

Hi! What is Your Name?

Introvert. Itulah karakter yang menunjukkan sebagian besar kepribadian saya. Pendiem, gak bisa nyapa orang duluan, cenderung malu-malu nanya kalau dikelas, kebanyakan mikir kalau mau berbuat, takut kalau ini itu terkesan sepele, lebih suka sendirian, lebih milih pura-pura gak lihat orang yang dikenal karena malu nyapa.

Huh. Saya suka merutuki diri sendiri karena banyaknya penyesalan yang datang akibat kelakuan saya itu. Ceritanya sih udah mau berubah dari jaman dahulu kala. Tapi ya bener berubah sih, hanya saja gak terlalu signifikan. Ceilah, kemudian review Econometrics.

Suatu ketika, tepatnya hari ini, iya baru hari ini. Saya memasuki kelas, eh tempat strategis nya habis. Terpaksalah duduk di belakang. Mujur teman bilang ada kursi kosong di tengah 2 sister. Duduklah saya. Lalu tamat.

Iyuwh. Saya duduk lalu kemudian hadap kiri said “hi, what’s your name?” kenalan deh sama yang kiri karena kebetulan doi mukanya gak asing. Saya ingat ada beberapa kelas yang bareng. Diapun ingat kelas apa aja yang bareng. Kemudian, hadap kanan. Pertanyaan yang sama seperti hadap kiri. Kenalan deh. Doi from China which is become my first Chinese friend I can talk with.

Kebetulan sisters di belakang nanya sesuatu di sela-sela obrolan kita yang jadinya kenalan bertiga deh. Hebatnya (buat saya sih ini prestasi), saya ngadep belakang dan nanyain nama satu-satu. WOW!!! Then I realized being friendly is FUN! Jadi banyak tau, banyak teman. Kebayang kalau saya adalah saya yang dahulu, bakal krik krik selama kelas.

Inti dari segala mumbling-an ini adalah. I have improved! And I want this behavior keep on fire. Saya kan udah demen senyum-senyum, kurang demen nyapa aja. Gak peduli apapun respon orang, sapalah. Senyumin. Kan sodakoh. Kan orang seneng disenyumin, disapa, sebagaimana saya juga senang kalau orang senyum dan ramah. Segitu aja sih. Ini baru beneran tamat, hehee..

Rancang Bangun Mendidik Anak, wkwkwkwk..

Memperhatikan ibu-ibu muda sekarang sungguh menarik. Ada ibu yang sibuk anter jemput anaknya ke gym sekalian nongkrong dengan ibu-ibu lainnya sembari menunggu anaknya beraktivitas. Ada jg yg sibuk dress up anaknya trus di post di media sosial, bajunya bulan yang biasa tentunya, fancy one dong ah. Another one sibuk compare sekolah anaknya dengan anak yang lain. Ada juga kok yang gak ada kata lain buat anaknya selain “sholehah ya naaakk..”
Ini semua bikin gw mikir, seperti apa gw nanti memperlakukan anak gw? Apa yang akan sibuk gw lakukan untuk mereka?
Semua orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya, no denial. Tapi apa sih ukuran terbaik itu? Ber-mewah-an kah? Berlomba untuk populer kah? Berlomba gengsi kah?

Gw jadi mulai merancang bangun apa yang harus gw lakukan kepada anak gw nanti. Hehehhee..
1. Ajarin ngaji dari kecil, kalau bisa langsung dari ibunya
2. Ngajarin nilai-nilai hidup dari yang sederhana aja, semenjak dia kecil
3. Libatkan dalam pendidikan yang baik, gak perlu sekolah yang gergous bingit, yang penting seimbang moral dan akademiknya
4. Gw emang ga bisa masak, tapi kayanya kalau mau anak-anak yang sehat dan cerdas, makanan harus home made deh. *brb les masak*
5.  Sisipkan pemikiran positif dalam setiap kegiatan dan saat menghadapi masalah
6. Gak akan maksa untuk mereka menentukan apa yang mereka mau. Gw harus belajar peka untuk mengerti kemana arah berkembangnya dan gak bisa egois memaksakan kehendaknya *ah bijaknya daku*
7. Biasakan menggunakan baju anak-anak, yang real anak-anak. Kalau ada yang perempuan, mau ajarin menutup aurat ah. Gak muluk langsung kerudungan, tapi bajunya panjang terus aja.

Hm, sayang rancang bangun ini gak akan terlaksana sebelum adanya partner hidup. Hahhahaha.. *absurd ah* *wassalam*